Kamis, 27 Oktober 2011

Tarekat Qadiriyah

A. Pendiri dan Perkembangannya
Tarekat Qodiryah didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di Nif, distrik Jilan, sebelah selatan Laut Kaspia tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, dia  tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Abu Yusuf al-Hamadany (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah. Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS oleh orang Baghdad beliau dijuluki dengan MAWAR BAGHDAD. Beliau adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat.

Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baggdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpinan anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M. 
Sejak itu tarekat Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku keturunan Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.
Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, “Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.”  Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qodiriyah di dunia Islam, Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), dan lain-lain, semuanya berasal dari India. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Khulusiyah,dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah. Sedangkan di Afrika diantaranya terdapat tarekat  Ammariyah, Tarekat Bakka’iyah, Bu’ Aliyya, Manzaliyah dan tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Abdul Qodir Jilani.
Tareqat Qodiriyah bermula dari ribath dan madrasah Syekh Abdul Qodir Jailani, tempat yang dia pimpin untuk  menyampaikan ajaran-ajaran tasawufnya sejak tahun 521 H hingga wafatnya tahun 561 H. Setelah itu ribath diteruskan kepemimpinannya oleh anak-anaknya kemudian dilanjutkan oleh murid-muridnya dengan zawiyah (suatu tempat para sufi melatih diri dalam bertasawuf) sebagai pusat kegiatannya, bagi murid yang sudah tamat akan diberikan ijazah yang berupa Khirqah dengan melakukan janji untuk meneruskan ajarannya yang telah didapat. Namun bagi Syekh Abdul Qodir Jailani sendiri tentang perolehan khirqah tidak terlalu penting, pembentukan jiwa sufi lebih utama dan dianggap cukup. Dari zawiyah inilah tareqat Qodiriyah mengalami perkembangan pesat.
Murid-muridnya banyak memegang peran penting dalam penyebaran ajaran tasawufnya, di antaranya yang diketahui yaitu : Muhammad ibn Abd al-Samad di Mesir, Muhammad al-Bata’ihi dan Taqiy al-Dina al-Yunini di Suriah, dan Ali al-Hadad di Yaman. Pada abad ke-15,tarekat ini masuk dan berkembang di anak benua India. Perkembangan yang sama terjadi di Afrika Utara. Pada tahun 1550 M, tarekat ini tersebar di Afrika Timur. Pada abad ke-17, tarekat ini mulai masuk ke Turki. Penyebar didaerah ini bernama Ismail Rumi (wafat 1631 atau 1643 M), dia kira-kira mendirikan 40 pusat tarekat di Istambul dan sekitarnya.
Tareqat Qodiriyah juga tersebar di Asia Kecil dan Eropa Timur, setelah beberapa dasawarsa kemudian di Indonesia tareqat ini adalah tarekat yang pertamakali masuk menurut sumber-sumber yang ada di Indonesia. Orang yang pertama menganut tarekat Qodiriyah dari Indosesia ialah Hamzah Fansuri (wafat sekitar 1590 M) dia masuk tarekat Qodiriyah antara Baghdad dan Syahr’i Naw (Ayuthia, ibukota Muangtai). Hamzah memperoleh ilmu Syekh Abdul Qodir Jailani melalui jalan ruhani, setelah Hamzah Fansuri tarekat ini juga berkembang di Aceh, di Makasar yang dikembangkan oleh Syekh Yusuf al-Makasari.
Dalam perkembangan berikutnya di Indonesia tarekat Qodiriyah bergabung dengan tarekat Naksabandiyah yang pada akhirnya menjadi sebuah tarekat terbesar, terutama di pulau Jawa, dengan nama baru Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah didirikan oleh sufi dan Syekh besar masjid al-Haram Mekah al- Mukaramah, yaitu Ahmad Khatib Sambas ibn Abd Ghaffar al-Sambasi al-Jawi, seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Mekah yang wafat pada tahun 1878 M.
Diantara murid-murid Ahmad Khatib ialah Abd.Al-Karim dari Banten, sebagai orang yang menyebarkan dan mempopulerkan tarekat Qodiriyah-Naqsabandiyah didaerah ini dan Syekh Tolhah dari Cirebon yang mempunyai murid bernama Abdullah Mubarak.mengenai murid syekh Tholhah yang dikenal sebagai pendiri Pesantren Suryalaya ini, penulis buku tarekat Naqsabandiyah di Indonesia.
Martin Van Bruinessen mengatakan “Khalifah dari Kiyai Tolhah Cirebon yang paling penting ialah Abdallah Mubarak, belakang dikenal sebagai Abah sepuh. Abdallah melakukan baiat ulang dengan Abd.Karim Banten di Mekkah dan pada tahun 1905 M mendirikan pesantren Suryalaya di Pangerageung, dekat Tasikmalaya ( Jawa Barat ).” 
Kemudian di bawah pimpinan putranya dan penerusnya Abah Anom (K.H.A. Shahibilwafa Tadjul Arifin) pesantren ini menjadi lebih terkenal secara nasional karena pengobatan yang dilakukan terhadap para korban Narkotika, penderita gangguan kejiwaan dan macam-macam penyakit lainya dengan mengamalkan dzikir tarekatnya.
Bentuk dzikirnya adalah :
- Dzikir Jahar, yaitu membaca “Laailaaha illallah” dengan suara keras.
- Dzikir Khafi, yaitu membaca “Laailaaha illallah” dalam hati.
- Diamalkan setelah shalat wajib atau sunat sebanyak 165 kali atau lebih
Ini merupakan amalan utama di Pondok Pesantren Suryalaya sejak masa Abah Sepuh hingga Abah Anom dan sebagai realisasi tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah. Abah Anom banyak mendapatkan patronase dari para pejabat tinggi dari Golkar yang telah dimasukinya hampir sejak permulaan berdirinya organisasi tersebut. Khalifahnya ada diseluruh jawa di Singapura di Sumatra Timur, Kalimantan Barat dan Lombok.


B. Ajaran Tarekat Qadiriyah
Tarekat Qadiriyah menekankan ajarannya pada dzikir jahr nafi isbat dengan urutan sebagai berikut :
Membaca Istighfar paling sedikit 2 atau 20 kali dengan lafadz  “Astaghfir Allah al-ghafur al-Rahim”, kemudian shalawat sebanyak itu pula dengan lafadsz “Allahuma shali’ala sayyidina Muhammad wa’ala alihi wa shahbihi wa sallim”, diteruskan dengan membaca dzikir jahr nafi isbat, yaitu melafadkan kalimat lailahailalah dengan suara keras sebanyak 140 kali dan dikerjakan setiap selesai shalat fardhu.
Pengucapan lafadz Lailaha illallah memiliki cara tersendiri, yaitu kata LA dibaca sambil dibayangkan dari pikiran ditarik dari pusat hingga otak, kemudian kata ILAHA dibaca sambil menggerakkan kepala kesebelah kanan dan kata ILLALLAH dibaca dengan keras sambil dipukulkan kedalam sanubari, yaitu kebagian sebelah kiri. Setelah selesai melakukan zikir itu lalu membaca Sayyidina Muhammad Rasul Allah Shalallah ‘alaihi wa sallam, membaca shalawat Allahuma shalli’ala sayyidina Muhammad shalatan Tunjina biha min jami al-ahwal wa al-afat dan membaca surat Al-Fatihah ditujukan kepada Rasulullah SAW dan kepada seluruh Syekh-syekh tarekat Qadiriyah serta para pengikutnya juga seluruh orang islam baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Sebelum dan ketika melakukan zikir tersebut seorang murid membayangkan wajah guru(mursyid) didepanya dan limpahan karunia Allah kepada Nabi dan Syekh. 
Bagi setiap orang yang menganut tarekat Qadiriyah harus berpegang kepada akidah para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, yaitu akidah al-salaf al-salih. Berpedoman kepada Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, agar dalam menjalani tarekat tidak tersesat. Bagi pemula (mubtadi) agar memiliki sifat bersih hati, jernih muka, suka memberi kebajikan, menghapus kejahatan, sabar dalam kekafiran, menjaga kehormatan syekh, bergaul baik sesama ikhwan, memberi nasihat kepada orang kecil dan orang besar, menjauhi permusuhan dan berkorban dalam masalah agama dan dunia.
Selain persyaratan tersebut diatas,setiap orang yang hendak mengikuti tarekat Qadiriyah harus menjalani dua tahapan, yaitu :
  1. Tahap Permulaan, yaitu murid mengikuti dan menerima bai'at guru sebagai pertemuan pertama antara guru dan murid - Penyampaian wasiat oleh guru kepada murid - Pernyataan guru membai'at muridnya bahwa telah diterima menjadi murid dengan lafadz tertentu - Pembacaan do'a oleh guru yang terdiri dari do'a umum dan do'a khusus - Pemberian minum oelh guru kepada murid sambil membacakan beberapa ayat al-Qur'an. Setelah pemberian minum itu, maka selesailah tahap permulaan dan secara resmi seseorang telah menjadi murid pengiktu Tarekat Qadiriyah.
  2. Tahap Perjalanan, maksudnya tahap murid menuju Allah melalui bimbingan guru. Murid harus melalui tahap ini dalam waktu yang lama dan bertahun-tahun, sebelum ia memperoleh karunia Allah yang dilimpahkan kepadanya. Selama perjalanan itu murid masih menerima ilmu hakikat dari gurunya. Selain itu murid juga dituntut berbakti kepada guru dan menjauhi larangannya. Murid harus terus berjuang melawan hawa nafsu dan melatih dalam ber-mujahadah dan riyadhah kepada Allah.
Apabila murid telah berhasil melalui tahapan tersebut, maka guru memberikan ijazah dan memberikan talqin tauhid kepada murid, setelah itu murid berhak menyandang gelar guru atau syekh dalam tarekar Qadiriyah. Seorang murid yang telah menjadi syekh sudah tidak lagi terikat dengan gurunya, walau pun tidak ada larangan untuk terus mengikuti guru. Sesuai dengan petuah Syekh Abdul Qadir Jailani bahwa murid yang telah menjadi syekh boleh mandiri dan yang menjadi walinya adalah Allah.
Mengenai corak tarekat Qodiriyah ada beberapa komentar para syekh : Syekh Ali ibn al-Haiti ra. mengatakan ”Tarekatnya adalah tauhid semata dan pentauhidan diri serta menghadirkannya dalam segala sikap ubudiyah dengan melepaskan dari segala sesuatu dan untuk sesuatu”.
Kemudian Syekh Abdi ibn Musafir ra. juga memberikan komentar  bahwa ”Tarekatnya adalah  kepasrahan kepada alur-alur takdir dengan keselarasan hati dan ruh, pernyataan lahir dan batin, dan pembersihan jiwa dari sifat-sifat kedirian(nafs) serta mengasingkannya dari memandang manfaat, mudharat, kedekatan dan rasa jauh”


Secara garis besarnya pokok-pokok ajaran Tarekat Qadiriyah yaitu ada lima :
1. Tinggi cita-cita
2. Memelihara Kehormatan
3. Memelihara Nikmat
4. Melaksanakan Maksud
5. Mengagungkan Nikmat.


Dalam hal ini terdapat beberapa nasehat Syekh Abdul Qadir Jailani, di antaranya :


1. Antara Shalat Syariat & Shalat Thariqah
**Shalat Syari’ah, sebagaimana Firman Allah :
حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ
Artinya : Peliharalah semua shalat itu dan shalat Wusthā. Dan laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk..(Al-Baqarah : 238).
Dalam shalat syari’at tentu ada rukun-rukunnya secara lahiriyah dengan gerakan-gerakan jasmani, seperti berdiri, ruku’, sujud, duduk, suara dan lafadz yang diucapkan. Semua itu termasuk dalam ayat “Peliharalah….”
Sedangkan Shalat Thariqah adalah shalatnya qalbu, sholat yang diabadikan. Dalam ayat dilanjutkan dengan “Dan sholat yang di tengah (wustha)..” maksudnya adalah shalat qalbu, karena qalbu itu diciptakan posisinya di tengah, antara kanan dan kiri, antara bawah dan atas, antara bahagia dan sengsara. Sebagaimana sabda Nabi Saw. : “Qalbu berada diantara dua Jemari dari Jemari-jemari Ar-Rahman, dimana Allah membolak-balikkannya semau-Nya…” (Hr. Muslim, dan juga dikutip oleh Al-Ghazali dalam Al-Ihya’). 
Yang dimaksud dengan Dua Jemari adalah dua sifat Allah, Al-Qahr (Yang Maha Memaksa) dan Al-Luthf (Yang Maha Lembut), sebab Allah Maha Suci dari Jemari-jemari. Dengan demikian jelaslah bahwa maksud kalimah wustha dalam ayat di atas adalah Shalat Qalbu.
Apabila Shalat Qalbu rusak, maka shalatnya pun rusak termasuk shalat jasmani, sebab shalat berarti bermunajat kepada Tuhannya dan tempat munajat itu adalah qalbu. Sebagaimana Hadits Nabi Saw. : “Tidak ada sholat melainkan dengan hati yang hadir di hadapan Allah.”
Hati adalah pokok shalat yang lain hanyalah pengikut, dalam hadits lain Nabi Saw. bersabda : “ Ingatlah! Sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila ia bagus maka bagus pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingatlah, daging itu adalah qalbu…” (Hr. Bukhari).
**Shalat syariat itu ada waktunya, setiap hari dan malam, lima kali. Disunnahkan berjama’ah di masjid dan harus menghadap Ka’bah, mengikuti imam, tanpa ada sikap pamer dan popularitas.
Sedangkan Shalat Thariqah itu adalah Dzikrullah sepanjang hidup. Masjidnya adalah qalbunya. Jama’ahnya adalah perkumpulan kekuatan-kekuatan batin, untuk sibuk terus menerus mengingat Nama-nama Allah dan mentauhidkan Allah dengan lisan batin. Imamnya adalah rasa rindu dalam spirit qalbu (Fuad). Dan kibaltnya adalah Al-Hadrah al-Ahadiyah (Manunggal hamba-Allah dalam Keesaan-Nya) dan Keindahan Shamadiyah-Nya, itulah kiblat Hakikat.


2.   Jihad Terbesar
Allah Azza wa-Jalla Ta’ala telah memberi penjelasan tentang dua Jihad, yaitu Jihad Dzahir dan Jihad Bathin.
Jihad Bathin adalah perjuangan melawan hawa nafsu, watak nalurinya, setan dan taubat dari kemaksiatan, dosa-dosa serta meninggalkan hal-hal menyenangkan, tetapi diharamkan. Sedangkan Jihad Lahir adalah perjuangan melawan orang-orang kafir yang kontra terhadap Allah dan Rasul-Nya, melalui senjata dan berperang bila mereka juga menyerang.
Jihad Bathin lebih sulit dibanding Jihad Lahir, karena Jihad Bathin dilakukan terus menerus dan menjadi keharusan. Dengan demikian Jihad Batin berarti menghilangkan segala kecenderungan nafsu yang dilarang dan  menjauhinya serta menjalankan seluruh perintah Allah.
Jika seseorang mampu berjihad secara lahir dan batin berarti telah mendapatkan kemenangan dunia dan akhirat. Sebaliknya mereka yang di dunia selalu kontra terhadap Allah Ta’ala, mengikuti keselarasan nafsunya, egonya, tradisinya, setan-setannya, mendahulukan kepentingan dunianya dibanding akhiratnya, tentulah kerugian besar yang akan diraihnya dan bagi mereka azab yg sangat pedih dalam neraka. Kenapa tidak? Mereka telah mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, tidak beriman, tidak mengamalkan perintah-Nya dan tidak menjauhi larangan-Nya.
Hasan al Bashri berkata “cukuplah bagi orang beriman, sekadar makanan ringan, cukuplah kurma jelek dan seteguk air.”
Orang beriman itu makan untuk kekuatan tubuh, sementara orang munafik makan untuk menikmati makanan. Orang beriman mengkonsumi makanan karena butuh kekuatan untuk melintasi jalan menuju tempat, dimana tempat itu justru seluruh kebutuhannya tercukupi, karenanya ia makan hanya sekadar kuat saja. Sedang orang munafik memang tidak punya tempat, tidak punya tujuan hidup.
Luqmanul Hakim ra. berkata pada putranya, “Wahai anakku, sebagaimana engkau sakit, engkau tidak tahu penyakit datang secara tiba-tiba, demikian pula engkau mati dan engkau tidak tahu bagaimana engkau mati nanti.” Aku telah memberi peringatkan pada kalian, tapi kalian tidak pernah perhatikan. Kalian malah lenyap dari kebaikan sibuk dengan dunia. Sebentar lagi anda tua dan dunia tidak ada gunanya, bahkan semua yang anda kumpulkan jadi bebanmu.


3. Membuka Pintu-pintu Kedekatan dengan Allah Ta’ala
Untuk membuka pintu-pintu qarib dengan Allah adalah mengerjakan segala suruhan dan menghentikan segala larang-Nya, sebab pertentangan dengan (aturan) Allah swt, akan menjauhkan dan menghilangkan diri dari Allah. Jika tidak kembali mengikuti aturan Allah siksaan Allah akan menghantam, dihinakan dan dinistakan oleh ular-ular bencana dan kalajengking cobaan. Betapa pedihnya rasa cobaan, apalagi jika terpedaya. Oleh karena itu janganlah bergembira dengan apa yang miliki, karena semua itu pasti akan sirna.
Allah Ta’ala berfirman: “Sehingga ketika mereka bergembira atas apa yang mereka dapatkan, tiba-tiba Kami mengambil mereka seketika…”
Meraih anugerah keuntungan dari Allah Ta’ala harus ditempuh dengan kesabaran, oleh karena itu Allah mengingatkan berkali-kali tentang berlaku sabar. Kefakiran (rasa butuh kepada Allah) dan kesabaran tidak akan pernah bertemu bila diri tidak beriman. Sedangkan para pecinta Allah senantiasa mendapat cobaan, namun mereka bersabar, terlimpahi ilham untuk berbuat kebaikan beriringan dengan cobaan dan ujian-Nya, senantiasa bersabar atas sesuatu yang terjadi dari Allah Ta’ala.


4. Hilangnya Agama Karena Empat Hal
Agama dan rasa beragama akan hilang dari hati seseorang apabila :
a. Tidak mengetahui apa yang diamalkan.
b. Mengamalkan hal-hal yang tidak diketahui.
c.  Tidak mau belajar hal-hal yang tidak dimengerti, betah dalam kebodohan.
d. Menghalangi orang-orang yang belajar ilmu pengetahuan.


5. Pengabdian Kepada Allah
Ber-Ubudiyah yang benar kepada Allah Ta’ala, berarti merasa cukup bersama Allah dalam segala persoalan kehidupan. Apabila merasa jauh dari-Nya, maka kembalilah kepadaNya. Sebagai hamba anggaplah diri hina dan rendah hati di hadapanNya. Ikuti perintah dan jauhi larangan-Nya, bersabar dan ikhlas terhadap ketentuanNya.

Bila semua ini sudah dilakukan dengan sempurna, berarti pengabdian pada Allah sudah maksimal. “Bukankan Allah telah mencukupi hambaNya?”Jika ubudiyah benar, Allah pasti mencintai hamba-Nya dan itu akan bisa dirasakan dalam hati. Membuat hati  mesra bersama-Nya serta Taqarub pun bisa diraih tanpa susah payah.

Bersama Allah tidak akan ada rasa sepi dan sunyi dalam mengarungi kehidupan, sehingga rasa Ridho kepada-Nya akan muncul dalam segala hal. Jika dunia terasa sempit dan peluang-peluang tertutup, maka Allah Yang Maha luas tetap bersama hamba-Nya. Bahkan tidak ingin lagi memakan makanan selain dari-Nya, seperti yang dialami Nabi Musa as, ketika Allah berfirman:“Dan Kami haramkan pada Musa untuk disusui para wanita penyusu sebelumnya.” (Al-Qashsah, 12)

Tuhan kita Azza wa-Jalla, senantiasa Melihat dan Menyaksikan segalanya, dalam segala sesuatu senantiasa hadir,  dekat dengan segalanya, tidak butuh pada segalanya. Lalu kenapa mesti ada keingkaran setelah mengenal-Nya? Celakalah bagi hamba yang sudah mengenal-Nya, tetapi selalu mengingkariNya berkali-kali. Kalau tidak segera kembali kepadaNya, maka akan terhalang dari semua kebaikan.


(Materi Akidah Akhlak Kelas XII Madrasah Aliyah)
Dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar