Selasa, 29 November 2011

Isyraf

A.    Pengertian Isyraf

Kata isyraf berasal dari bahasa Arab asrafa-yusrifu-isyraafan yang berarti “bersuka ria sampai melampaui batas”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “melampaui batas” atau “berlebihan” diartikan “melakukan tindakan di luar wewenang yang telah ditentukan berdasarkan aturan (nilai) tertentu yng berlaku”. Sedangkan menurut istilah “melampaui batas” atau “berlebihan” dapat dimaknai sebagai “suatu tindakan yang dilakukan seseorang di luar kewajaran atau kepatutan, karena kebiasaan yang dilakukan untuk memuaskan kesenangan diri secara berlebihan”.


Sikap berlebihan merupakan penyakit yang mematikan dan merusak banyak kaum muslimin pada zaman dahulu. Begitu juga pada zaman modern, sifat melampaui batas akan mengancam masa depan umat manusia, terutama kalangan generasi muda. Nabi Muhammad Saw. bersabda : "Binasalah orang yang melampaui batas (berlebihan)". (H.R.Muslim). Dalam hadits lain Nabi Muhammad Saw. juga bersabda : "Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang yang memberatkan agama ini, melainkan ia akan terkalahkan. Oleh karena itu luruskan dan bersahajalah (tidak berlebih-lebihan)". (H.R.Muslim).


B. Bentuk-Bentuk Sikap Isyraf


Sikap melampaui batas (berlebihan) menjelma dalam bentuk :
  1. Pamer kekayaan, berlebihan dalam memakai atau menggunakan kekayaan, baik berupa pakaian ataupun makanan, sehingga menimbulkan sikap ria.
  2. Berjiwa Sombong, lepas kontrol terhadap diri sendiri dan sosial, sehingga melakukan hal-hal yang diluar kewajaran.
  3. Mendambakan kemewahan dunia semata, sehingga melupakan akhirat.
  4. Mengikari nikmat yang dikaruniakan oleh Allah, atau kufur nikmat, seperti melupakan pemberi rezki (Allah) dan menganggap rezeki yang diperoleh hanya semata karena usaha sendiri.
  5. Melakukan ibadah secara berlebihan, seperti shalat malam semalam suntuk, sehingga ketiduran ketika menjelang pagi dan meninggalkan shalat shubuh.
Demikianlah di antara sikap melampaui batas (berlebihan) yang tidak diridhai oleh Allah Swt. yang tentunya perbuatan yang dilarang oleh ajaran Islam.


C. Nilai Negatif Sikap Isyraf


Di antara akibat sikap melampaui batas (berlebihan) adalah :
  1. Mengakibatkan terhentinya melakukan amal ibadah dan tidak sabar, karena manusia memmiliki tabiat cepat bosan dan memiliki kemampuan yang terbatas. 
  2. Manusia biasanya akan sabar mengerjakan pekerjaan yang berat dan sulit dalam waktu beberapa hari atau beberapa bulan, lebih dari itu akan manusia akan bosan. 
  3. Sikap "berlebihan" terkadang akan berubah menjadi sebuah "keteledoran", suatu hal yang sebelumnya bersifat ketat, berubah menjadi kebebasan. Pada akhirnya dia akan meninggalkan sedikit atau banyak dari apa yang seharusnya dilakukan.
Hasan Basri mengatakan bahwa, sunah telah menjelaskan tentang bentuk sikap melampaui batas dengan sikap berpaling, oleh sebab itu bersabarlah dalam mengikuti sunah, karena ahli sunah adalah orang yang paling sedikit, baik pada masa lalu, maupun di masa yang akan datang. Kemudian ahli sunah itu tidak hidup dalam kemewahan.


Menurut Imam Asy-Syatibi bahaya sikap melampaui batas adalah akan menghilangkan keteguhan dan keseimbangan dalam melaksanakan tuntutan agama dan tanggung jawab hukum. Beliau berkata "Ketahuilah bahwa kesempitan tidak akan dihilangkan dari seorang mukallaf karena dua hal :
Pertama, dikhawatirkan terputus amalnya di tengah jalan, membenci ibadah dan tidak suka melaksanakan kewajiban dalam agama. Kedua, dikhawatirkan akan menimbulkan kurangnya amal karena bermalas-malasan. Terkadang karena menekuni sebagian amal akan melalaikan atau bahkan dapat menghentikan amal lainnya.  


D. Upaya Menghindari Sikap Isyraf


Islam telah memberikan tuntunan dalam berbuat dan beribadah, antaranya seperti :
  1. Rasulullah Saw. melarangan umatnya berpuasa terus-menerus.
  2. Rasulullah Saw. melarang shalat disebagian besar waktu malam, kecuali pada sepuluh akhir Ramadhan.
  3. Rasulullah Saw. melarang membujang jika telah mampu menikah.
  4. Rasulullah Saw. melarang meninggalkan makan daging.
Bagi orang yang beramal tanpa mengetahui ketentuan di atas, maka dia beroleh pahala, tetapi bagi orang yang mengetahui ketentuan tersebut, tetapi tidak mengindahkannya dan melampauinya, maka dia berarti dikalahkan dan tertipu oleh nafsunya.


Islam mengajarkan sifat kesederhanaan dalam menjalani kehidupan dan ibadah, dilarang mengikuti nafsu syahwat. Bersikaplah sewajarnya dan tundukan nafsu dengan akal sehat, karena sebagian besar kejelekan yang menimpa manusia bersumber dari hawa nafsu yang lepas kontrol. Jauhi hal-hal yang akan mendorong perbuatan yang tidak baik atau melampaui batas.
  
-----------------------------------------------------
(Materi Pelajaran Akidah Akhlak Kelas XI MA)
Dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar